Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Padamu

Pintaku lagi Pada angin Sekali lagi kumeminta Tinggalkan lara ini dalam hangatnya sendu Dan hancurkan ego yang senantiasa merayu Bunyi teredam hampanya ruang Dalam pengap kupeluk rindu Pada siang yang membenci malam Lalu daun gugur dan hujan menemaniku jatuh Lelahnya nyanyian fajar menggangguku Kotak itu tak berisi, tuan Lalu embun pagi pagi bersahutan Senyum licik menyembunyikan Kedua kali kumeminta Tanggalkan jasmu dan tinggalkan aku Melayang-layang di atas sini tak selalu menyenangkan, tuan Menjelma pagi dingin sesuai sandiwara Kau rajanya kan? Pintaku tak rumit, tuan Laba-laba di pojok ruang mengangguk setuju Ruang hidup tak selalu bernyawa Keping hati setia berdansa Mengaku tak ada risau Namun, awal rasa menjelma lara

Lupa

Ku coba lenyap tuk melupa Meniti jembatan seraya mengadu Cacian angin membelai senja Bertanya mengapa Sampai malam tiba tak ada jawab Masih terdiam dan meniti Seperti lingkaran yang tak berujung pasti Kembali ke titik itu Lagi dan lagi Lalu apa? Lenyapku tak disetujui oleh sang asa Atau diri ini beri kesempatan, lagi?

Dikata

Luluh dalam aksara Tersesat dalam angan Kau sebut apa metamorfosa tak bertuan Dalam kendali tapi mati Lensa dalam diri bercermin manis Mengeja tutur kata tanpa terucap Manis memang... Karena kata dikira sunyi Tak salah menelusuri setiap jengkal Mata yang mencoba mengatakan Tanpa dikata ia sudah menjelaskan Dalam sekejap berubah celaka Benang seharusnya tahu untuk apa ia dirajut, sebuah kain? Jika pada akhirnya ia ditusuk jarum