Postingan

Dear

3 Juni 13:43 Dear me, Kamu tau? Tepat satu tahun yang lalu, kamu juga diposisi ini Dulu, berakhir sangat menyedihkan Apakah kamu mau mengulang rasa itu Jika menolak Biarkan dia, jangan kamu tanggapi Lelahmu menghadapi, menghindari, dan berdiam akan sia-sia jika kamu mengulanginya Cukup! Serius lah dalam menghadapi egomu Dan... Dear you, Sudah hampir 2 tahun aku mengenalmu. Kamu hanya datang sekali dan kamu juga yang pertama. Aku sudah mencoba melupakan mu. Satu tahun aku sengaja tidak ingin melihatmu, menegurku, dan tidak menyebut namamu. Namun, nyatanya aku kalah pada egoku. Aku sempat menang tapi mereka memaksaku. Yang kamu lakukan tidak lebih dengan yang kamu lakukan ke mereka, dia dan yang sekarang, orang yg ada di hatimu. Tapi, apa yang kamu lakukan lebih dari orang-orang yang pernah ada di hatiku. Maaf, ya. Sudah melibatkan mu dalam kerumitan pikiranku. Kalo kamu merasa tersedak, kupingmu berdengung, atau lidahmu kegigit. Mungkin itu karena aku ya...

Tamat

Ada hari dimana nanti aku akan seolah-olah tidak mengenalmu Bukan karena aku membencimu Tapi, aku harus menjaga jiwa yang lain Dan suatu saat ada hari dimana aku tiba-tiba akan datang padamu Bukan karena aku membutuhkanmu Tapi, aku harus membenahi jiwa yang tak lagi utuh Lalu, ceritakan pada semua orang bahwa aku tak seburuk apa yang mereka pikirkan Ada sedikit kecewa di hatiku Ada sedikit amarah Dan ada sedikit bahagia Kecewa karena pada kenyataannya kau belum mengenalku Marah karena di sudut pandang mereka, aku yang tersalahkan Bahagia karena lagi-lagi aku terjebak dalam cerita yang rumit Sebelumnya, ada kata maaf Tapi, maaf aku tak bisa mengatakannya padamu Pengecualian jika kau memberitahuku di awal buku Aku tidak berharap lebih Aku hanya ingin menciptakan kisah persahabatanku denganmu di lembaran bukuku yang baru Terimakasih telah menuliskan epilog di tengah halaman Dan kini aku harus mengakhirinya dengan kata-kata kosong 22.17/11.11/2018

Dua

Gambar

Aku?

Gambar
Aku baik-baik saja,

Padamu

Pintaku lagi Pada angin Sekali lagi kumeminta Tinggalkan lara ini dalam hangatnya sendu Dan hancurkan ego yang senantiasa merayu Bunyi teredam hampanya ruang Dalam pengap kupeluk rindu Pada siang yang membenci malam Lalu daun gugur dan hujan menemaniku jatuh Lelahnya nyanyian fajar menggangguku Kotak itu tak berisi, tuan Lalu embun pagi pagi bersahutan Senyum licik menyembunyikan Kedua kali kumeminta Tanggalkan jasmu dan tinggalkan aku Melayang-layang di atas sini tak selalu menyenangkan, tuan Menjelma pagi dingin sesuai sandiwara Kau rajanya kan? Pintaku tak rumit, tuan Laba-laba di pojok ruang mengangguk setuju Ruang hidup tak selalu bernyawa Keping hati setia berdansa Mengaku tak ada risau Namun, awal rasa menjelma lara

Lupa

Ku coba lenyap tuk melupa Meniti jembatan seraya mengadu Cacian angin membelai senja Bertanya mengapa Sampai malam tiba tak ada jawab Masih terdiam dan meniti Seperti lingkaran yang tak berujung pasti Kembali ke titik itu Lagi dan lagi Lalu apa? Lenyapku tak disetujui oleh sang asa Atau diri ini beri kesempatan, lagi?

Dikata

Luluh dalam aksara Tersesat dalam angan Kau sebut apa metamorfosa tak bertuan Dalam kendali tapi mati Lensa dalam diri bercermin manis Mengeja tutur kata tanpa terucap Manis memang... Karena kata dikira sunyi Tak salah menelusuri setiap jengkal Mata yang mencoba mengatakan Tanpa dikata ia sudah menjelaskan Dalam sekejap berubah celaka Benang seharusnya tahu untuk apa ia dirajut, sebuah kain? Jika pada akhirnya ia ditusuk jarum