Perjalanan Kita, Kawan!
masih dengan waktu yang sama,
masih dengan jalan yang sama,
dan masih dengan teman yang sama.
Ratusan hari telah kita lalui bersama, kawan.
Melalui jalan yang sama, menuju masa depan yang indah.
Mengukir kenangan di sekolah, masa yang penuh misteri.
Ketika cahaya mentari memasuki pintu rumahku, aku baru saja keluar.
"Berangkat ya pak.. buk.." "Assalamu'alaikum..".
Mengumpulkan tenaga di bagian kakiku, mulai mengayuh sepeda ini.
Keluar dari gang sempit, menuju tempat biasa mereka menungguku, kita menyebutnya "koran-koran" seperti biasa, masih dengan waktu yang sama.
Akulah yang selalu mereka tunggu.
Mereka datang ketika cahaya matahari belum memasuki pintu rumahku.
Wajar... aku tak bisa seperti mereka.
"Maaf" karna telah lama menungguku.
Kami melakukan itu dari awal.
Awal mengukir cerita di SMP 1 Pundong.
Empat kawanku dari desa.
Bersama pulang berangkat, mencetak prestasi masing-masing.
Sudah terbiasa dengan ramainya jalan menuju sekolah.
Sudah terbiasa dengan panas terik matahari ketika kembali ke rumah.
Sudah seperti teman perjalanan.
Penuh canda tawa.
Bersenda gurau, tertawa, dan menertawakan, berbagi cerita.
Sepanjang perjalanan, menengok keseliling.
Berkomentar perihal yang terjadi di sekeliling.
Sawah berubah menjadi rumah
Sungai tercemar sampah.
Suhu di keramaian sangatlah menyengat.
Dan akulah yang paling sensitif dengan hal itu.
Tuhan mungkin telah kecewa kepada hamba-Nya.
yang telah merubah segala yang diciptakan-Nya.
akupun tak tahu..
Dan ketika hujan.
Begitu senangnya diriku, melihat rejeki yang diturunkan-Nya.
Kita tau kan?
Tak ada penutup kepala.
Lalu kita tertawa bersama.
Berada di derasnya air hujan, aku merasa bersyukur, dapat melalui bersama dengan kalian.
Menuju emperan toko di pinggir jalan.
Dan hanya menunggu hujan reda..
ini belum semua hal yang kita lalui bersama, kawan..
masih dengan jalan yang sama,
dan masih dengan teman yang sama.
Ratusan hari telah kita lalui bersama, kawan.
Melalui jalan yang sama, menuju masa depan yang indah.
Mengukir kenangan di sekolah, masa yang penuh misteri.
Ketika cahaya mentari memasuki pintu rumahku, aku baru saja keluar.
"Berangkat ya pak.. buk.." "Assalamu'alaikum..".
Mengumpulkan tenaga di bagian kakiku, mulai mengayuh sepeda ini.
Keluar dari gang sempit, menuju tempat biasa mereka menungguku, kita menyebutnya "koran-koran" seperti biasa, masih dengan waktu yang sama.
Akulah yang selalu mereka tunggu.
Mereka datang ketika cahaya matahari belum memasuki pintu rumahku.
Wajar... aku tak bisa seperti mereka.
"Maaf" karna telah lama menungguku.
Kami melakukan itu dari awal.
Awal mengukir cerita di SMP 1 Pundong.
Empat kawanku dari desa.
Bersama pulang berangkat, mencetak prestasi masing-masing.
Sudah terbiasa dengan ramainya jalan menuju sekolah.
Sudah terbiasa dengan panas terik matahari ketika kembali ke rumah.
Sudah seperti teman perjalanan.
Penuh canda tawa.
Bersenda gurau, tertawa, dan menertawakan, berbagi cerita.
Sepanjang perjalanan, menengok keseliling.
Berkomentar perihal yang terjadi di sekeliling.
Sawah berubah menjadi rumah
Sungai tercemar sampah.
Suhu di keramaian sangatlah menyengat.
Dan akulah yang paling sensitif dengan hal itu.
Tuhan mungkin telah kecewa kepada hamba-Nya.
yang telah merubah segala yang diciptakan-Nya.
akupun tak tahu..
Dan ketika hujan.
Begitu senangnya diriku, melihat rejeki yang diturunkan-Nya.
Kita tau kan?
Tak ada penutup kepala.
Lalu kita tertawa bersama.
Berada di derasnya air hujan, aku merasa bersyukur, dapat melalui bersama dengan kalian.
Menuju emperan toko di pinggir jalan.
Dan hanya menunggu hujan reda..
ini belum semua hal yang kita lalui bersama, kawan..

Komentar
Posting Komentar